6/26/2015

Pelangi Cina di Indonesia

Judul: Pelangi Cina di Indonedia
Pengantar: Prof. Gondomono, Ph.D.
Penerbit: Intisari
Harga: Rp 40.000

Menurut Prof. Gondomono, Ph.D., kelompok Cina di Indonesia merupakan masyarakat yang heterogen. Jadi, sangat keliru jika selama ini sering kali ada anggapan yang memukul rata kelompok Cina dengan mempergunakan stereotipe yang umumnya berkonotasi buruk. Dalam kenyataannya, seperti semua kelompok etnik di mana pun, di antara kelompok Cina pun ada yang baik dan jahat, yang kasar maupun yang berbudaya, yang mempergunakan uangnya untuk berkolusi dengan pejabat maupun untuk kesejahteraan orang banyak, yang mementingkan kesejahteraan pribadi semata maupun yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat sekelilingnya.

Buku ini memang hanya memuat sepuluh orang dari mereka. Di antaranya adalah: Oei Tiong Ham. Selain merupakan orang terkaya di Indonesia pada zamannya, si Raja Gula dari Semarang ini juga merupakan konglomerat pertama di Asia Tenggara. Baginya, uang bukanlah masalah. Tetapi pada kenyataannya, ternyata hidup pria mata keranjang ini tidak sebahagia yang dibayangkan orang.

Mungkin benar seperti kata pepatah: "Tak ada pesta yang tak berakhir". Jika Jawa memiliki Oei Tiong Ham, di Medan ada Tjong A Fie yang tidak kalah terkenalnya dan memiliki kekayaan tak kalah hebohnya. Bahkan fotonya sempat menghiasi mata uang. Kebaikan hatinya tetap menjadi buah bibir masyarakat Medan sampai sekarang ini.

Jika selama ini masyarakat Cina selalu dianggap identik dengan uang, mungkin perilaku dr. Oen Boen Ing dari Solo bisa mematahkan anggapan tersebut. Baginya, menolong pasien merupakan keharusan. Soal si pasien mau bayar ataupun tidak, dia tidak peduli sama sekali.

Sementara itu Steve Liem yang lebih dikenal dengan nama Teguh Karya tidak ragu mengabdikan hidupnya bagi kemajuan dunia teater dan perfilman nasional Indonesia.

Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada saja orang yang sering kali nyeleneh, seperti yang ditunjukkan oleh Oey Tambahsia. Mungkin karena tidak kuat iman menerima warisan yang besar, kelakuan pria "bingung" ini memicu berbagai masalah yang akhirnya sering kali keluar dari tatanan yang berlaku dalam masyarakat. Ternyata semua itu harus dibayarnya dengan mahal.

Di dalam masyarakat seperti sekarang ini di mana keadilan sulit diperoleh, perjuangan yang ditunjukkan oleh Yap Thiam Hien, S.H. alias Singa Tua Pembela Keadilan, mungkin bisa memberi sedikit kelegaan. Mudah-mudahan melalui isi buku ini kita bisa belajar banyak mengenai masa lalu, perjuangan hidup, dan lain-lain.

TERJUAL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar