Judul: Tokoh-tokoh
Filsafat Barat Modern
Penulis: Harry Hamersma
Penerbit: Gramedia
Tahun: 1992.
Tebal: 149 hlm
Harga: Rp 45.000
Jl. Cempaka No. 112 Perumnas Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta. Kontak: SMS 087839297524 BB 323C0C8F e-mail: penerbitkujang@gmail.com
2/20/2016
Parvana: Sang Pencari Nafkah
Judul: Parvana #1:
Sang Pencari Nafkah
Pengarang: Deborah Ellis
Penerbit: KPG
Tebal: 122 hlm
Afghanistan, masa rezim militer Taliban. Ibu kota Kabul porak poranda akibat perang berkepanjangan. Kesewenangan penguasa membuyarkan denyut kehidupan warga. Sekolah dibubarkan, segala bentuk hiburan ditiadakan, dan perempuan dilarang keluar rumah sendiri tanpa burqa yang mengungkung tubuh.
Parvana adalah gadis kecil biasa berumur 11 tahun bermasa depan gemilang. Ayahnya seorang terdidik lulusan Inggris dan ibunya seorang jurnalis kantor berita ternama. Namun hidup berkata lain. Perang memaksa ia menyamar menjadi anak laki-laki, menempuh bahaya, dan mencari nafkah keluarga.
Dengan bahasa yang ringan, novel inibagian pertama Trilogi Petualangan Parvanamenggambarkan kegigihan si tokoh utama membanting tulang dan membawa sedikit kegembiraan kepada keluarganya yang telah hilang harapan. Melalui mata lugu Parvana dan petualangannya yang tak terduga, kita diajak merasakan secercah sinar kehidupan yang memancar dari kehidupan di Kabul yang getir dan kelam. Trilogi Petualangan Parvana telah memenangi beberapa penghargaan, di antaranya Middle East Book Award (2002), Ruth Schwartz Award (2003), dan Hackmatack Award (2005).
Sang Pencari Nafkah
Pengarang: Deborah Ellis
Penerbit: KPG
Tebal: 122 hlm
Afghanistan, masa rezim militer Taliban. Ibu kota Kabul porak poranda akibat perang berkepanjangan. Kesewenangan penguasa membuyarkan denyut kehidupan warga. Sekolah dibubarkan, segala bentuk hiburan ditiadakan, dan perempuan dilarang keluar rumah sendiri tanpa burqa yang mengungkung tubuh.
Parvana adalah gadis kecil biasa berumur 11 tahun bermasa depan gemilang. Ayahnya seorang terdidik lulusan Inggris dan ibunya seorang jurnalis kantor berita ternama. Namun hidup berkata lain. Perang memaksa ia menyamar menjadi anak laki-laki, menempuh bahaya, dan mencari nafkah keluarga.
Dengan bahasa yang ringan, novel inibagian pertama Trilogi Petualangan Parvanamenggambarkan kegigihan si tokoh utama membanting tulang dan membawa sedikit kegembiraan kepada keluarganya yang telah hilang harapan. Melalui mata lugu Parvana dan petualangannya yang tak terduga, kita diajak merasakan secercah sinar kehidupan yang memancar dari kehidupan di Kabul yang getir dan kelam. Trilogi Petualangan Parvana telah memenangi beberapa penghargaan, di antaranya Middle East Book Award (2002), Ruth Schwartz Award (2003), dan Hackmatack Award (2005).
Perkara Mengirim Senja
Judul: Perkara Mengirim Senja
Jenis: Kumpulan Cerpen
Penulis: Jia Effendie, dkk
Penerbit: Serambi
Tahun: 2011
Tebal: 200 hlm
Harga: Rp 45.000
Jenis: Kumpulan Cerpen
Penulis: Jia Effendie, dkk
Penerbit: Serambi
Tahun: 2011
Tebal: 200 hlm
Harga: Rp 45.000
TERJUAL
Mencari Titik Pusat
Judul: Mencari Titik Pusat
Jenis: Novel
Penulis: VS Naipaul
Penerbit: Sadasiva
Tahun: 2002
Tebal: 200 hlm
Harga: Rp 45.000
TERJUAL
Jenis: Novel
Penulis: VS Naipaul
Penerbit: Sadasiva
Tahun: 2002
Tebal: 200 hlm
Harga: Rp 45.000
TERJUAL
2/18/2016
Cadas Tanios
Judul: Cadas
Tanios
Pengarang: Amin Maalouf
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Obor
Tebal: 262 hlm
Harga: Rp 45.000
TERJUAL
Pengarang: Amin Maalouf
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Obor
Tebal: 262 hlm
Harga: Rp 45.000
TERJUAL
Cuaca Selalu Berubah
Judul: Cuaca Selalu Berubah
Penulis: Andrea Maurois
Penerbit: Obor
Tahun: 2007
Tebal: 310 hlm
Harga: Rp 45.000
Penulis: Andrea Maurois
Penerbit: Obor
Tahun: 2007
Tebal: 310 hlm
Harga: Rp 45.000
Kisah Para Preanger Planters
Judul: Kisah Para
Preanger Planters
Penulis: Her Suganda
Penerbit: Kompas
Tahun: 2014
Harga: Rp 45.000
Kegigihan Van der Hucht berhasil mela-hirkan pengusaha-pengusaha perkebu-nan teh di Priangan yang berasal dari satu keluarga besar The Hunderian. Mereka itu adalah keiuarga-keluarga Kerkhoven, Holle, dan Bosscha, yang semuanya bertali-temali karena ikatan darah.
Mereka adalah keiuarga-keluarga kaya-raya yang muncul setelah pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang Agraria pada 1870, yang mengubah Priangan menjadi daerah tambang "emas hijau", melahir-kan keiuarga-keluarga konglomerat pengusaha perkebunan teh yang kemudian dikenal sebagai Preanger planters.
Tak dapat dipungkiri, kaum elite pengusaha perkebunan memiliki andil besar pa.da pesatnya perkembangan kota Bandung, sampai kota itu dijuluki "Parijs van Java". Namun, kenapa kehadiran mereka justru berpe-ngaruh buruk pada kehidupan kaum pribumi? Kenapa masyarakat Priangan mengalami k^mandekan ekonomi justru setelah berkembangnya perusahaan-perusahaan perkebunan besar di daerah mereka?
Her Suganda mengupas pula soal interaksi yang tidak sepadan dan hubung-an pelik antara kaurn.pendatang kulit putih dan penduduk pribumi., termasuk dalam hubungan "per-nyai-an" antara laki-laki kulit putih dan perempuan pribumi.. Persoalan menjadi lebih rumit ketika dari hubungan itu lahir anak "Indo" berhidung mancung, berkulit putih, dan bermata biru, tetapi bernasib sama dengan sang ibu: Tak memiliki masa depan yang jelas....
Preanger Planters
Penulis: Her Suganda
Penerbit: Kompas
Tahun: 2014
Harga: Rp 45.000
Kegigihan Van der Hucht berhasil mela-hirkan pengusaha-pengusaha perkebu-nan teh di Priangan yang berasal dari satu keluarga besar The Hunderian. Mereka itu adalah keiuarga-keluarga Kerkhoven, Holle, dan Bosscha, yang semuanya bertali-temali karena ikatan darah.
Mereka adalah keiuarga-keluarga kaya-raya yang muncul setelah pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang Agraria pada 1870, yang mengubah Priangan menjadi daerah tambang "emas hijau", melahir-kan keiuarga-keluarga konglomerat pengusaha perkebunan teh yang kemudian dikenal sebagai Preanger planters.
Tak dapat dipungkiri, kaum elite pengusaha perkebunan memiliki andil besar pa.da pesatnya perkembangan kota Bandung, sampai kota itu dijuluki "Parijs van Java". Namun, kenapa kehadiran mereka justru berpe-ngaruh buruk pada kehidupan kaum pribumi? Kenapa masyarakat Priangan mengalami k^mandekan ekonomi justru setelah berkembangnya perusahaan-perusahaan perkebunan besar di daerah mereka?
Her Suganda mengupas pula soal interaksi yang tidak sepadan dan hubung-an pelik antara kaurn.pendatang kulit putih dan penduduk pribumi., termasuk dalam hubungan "per-nyai-an" antara laki-laki kulit putih dan perempuan pribumi.. Persoalan menjadi lebih rumit ketika dari hubungan itu lahir anak "Indo" berhidung mancung, berkulit putih, dan bermata biru, tetapi bernasib sama dengan sang ibu: Tak memiliki masa depan yang jelas....
Langganan:
Postingan (Atom)






